Minggu, 12 Juni 2011

BERKAH UANG SERIBU RUPIAH

Bulan Desember tahun 2007, masih dalam suasana Lebaran Haji, Megawati dan Hariandi, suaminya ingin sekali berziarah ke makam bibinya di Jatiasih. Bekasi. Tapi dia bimbang."Duit kami bener-bener tinggal seribu perak dan bensin di tangki motor kata Bapak tinggal sedikit" Begitu Mega mengenang .
Bismilah tawwakaltu 'alalloh, Akhirnya mereka nekad berangkat. Biarkan di jalan lapar dan haus, yang penting jangan ada halangan seperti ban motor bocor. Begitu mereka berharap.
Sesampainya di tempat makam, mereka bersih-bersih makam dan kirim doa.
Pulangnya Mega merasa tergiur melihat es kebo yang harganya satu Rp. 500,- "Lumayan buat obat haus. " Tapi niatan itu diurungkan karena ingat bensin motor yang kata suaminya sudah hampir finis "Nanti saja minum air putih yang banyak setiba di rumah" Begitu gumamnya.
Di sebuah ruas jalan yang mereka lewati, laju kendaraan merayap. Rupanya di tengah jalan ada barisan pemungut sumbangan untuk pembangunan Masjid. "La haula wala quwwata illa billah" Mega meniatkan uang sisa yang seribu rupiah, uang terakhir mereka dari rumah. Uang seribu itu kemudian di masukan ke dalam jala yang dipegangi seorang pemungut sumbangan.
Sesampainya di rumah, mereka langsung minum air putih sepuasnya karena dari berangkat sampai pulang belum minum apappun. Alhamdulillah. Tapi kemudian mereka bingung mau makan apa, adanya cuma nasi.
Dalam kondisi kebingungan, tidak disangka datang kakanda Mega yang sudah lama sekali tidak berjumpa. Mereka akhirnya mengobrol dan kangen-kangenan hanya didampingi dengan air putih.
Saat kakaknya pulang, tangan Mega diselipin sesuatu oleh kakaknya. Mungkin kakanda Mega tahu kalau keluarga mereka sedang dalam kondisi terpuruk karena suami adiknya itu belum dapat pekerjaan.
"Subhanalloh, Alhamdulillah" Mega dan suaminya takjub, sumbangan seribu rupiah langsung diganti oleh Alloh SWT seratus kali lipat.
Kisah kehidupan sulit keluarga Mega dan Hariandi dimulai ketika suaminya kena PHK dari tempatnya bekerja, Uang pesangon lama-lama nyaris ludes untuk biaya makan. Sedangkan Hariandi tidak juga memperoleh pekerjaan baru. Sehingga kekhawatiran akan masa depan rumah tangganya selalu menghantui Mega. Sedekah bagi Mega dan Hariandi seolah-olah menjadi kemewahan.
Setelah kejadian yang terjadi pada uang yang seribu rupiah. Mega dan Hariandi mulai terbuka matanya bahwa memberi mempunyai arti tersendiri bagi hidupnya.
Suatu saat Hariandi diterima bekerja di sebuah studio rekaman di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Akan tetapi perasaan tidak cocok membuat Hariandi memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan Studio rekaman tersebut. Gaji pertama dan terakhirnya dari Studio dia sedekahkan semua sebagai bentuk rasa syukur atas terbukanya pintu rezeki.
Karena belum ketemu dengan pemilik perusahaan tersebut untuk pamitan, kemudian Hariandi mengajak instrinya untuk silaturahmi ke bos pemilik studio itu., Mereka akan mengakhiri hubungan kerja secara baik-baik. 
Waktu akan pamit pulang, mantan Bosnya itu berkata. "Oh ya Pak Hariandi, sudah cek rekeningnya belum?"
"Memangnya kenapa Pak.?" Tanya Hariandi penuh penasaran
"Saya sudah tranfer lagi gaji dua bulan kerja untuk kenang-kenangan."
Hariandi tidak kuasa berbicara apa-apa, dia hanya mengatakan."terima kasih Pak, saya bingung harus ngomong apa, saya selama sebulan ini juga belum pernah bertemu dengan Bapak, semoga perusahaan Bapak lebih sukses."
Mega dan Hariandi menjadi terheran-heran dengan apa yang telah diperbuatnya. Uang gaji dari perusahaan studio rekaman yang dia berikan rupanya membawa berkah tersendiri bagi keluarga itu untuk modal mencari pekerjaan baru.
Subhanalloh..........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar